SKRINING BETA THALASEMIA MINOR DAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DENGAN MENGGUNAKAN INDEKS MENTZER DAN RDW DI RSUD CHASAN BOESOIRIE TERNATE
DOI:
https://doi.org/10.33387/kmj.v1i2.1704Abstrak
Berdasarkan data WHO di Indonesia, ada 6-10% populasi dengan thalassemia beta minor sedangkan prevalensi anemia defisiensi besi pada masyarakat Indonesia sangat tinggi yaitu sekitar 25-30% dari populasi. Beberapa metode skrining yang digunakan untuk menentukan keberadaan Thalassemia beta minor dan defisiensi besi termasuk indeks eritrosit, Indeks Mentzer dan nilai RDW (Lebar Distribusi Sel Merah). Indeks Mentzer dan Indeks RDW adalah indeks yang paling umum digunakan saat ini. Dan pemilihan parameter indeks untuk menyaring talasemia dan defisiensi besi sangat penting untuk mendapatkan formula yang efektif dan efisien.. Indeks Mentzer untuk pasien yang diduga beta thalasemia trit adalah 5,2% dan anemia defisiensi besi adalah 94,8% dari 1358 sampel. Indeks RDW untuk pasien yang diduga beta thalasemia trit adalah 57% dan anemia defisiensi besi adalah 43% dari 1358 sampel. Indeks Mentzer memiliki sensitivitas lebih baik sebagai skrining anemia defisiensi besi dan indeks RDW memiliki sensitivitas lebih baik sebagai skrining Beta Thalasemia trit
Kata Kunci: Thalasemia β minor, Anemia Fe, Indeks RDW Mentzer
Referensi
Abdulsalam, M., & Daniel, A. (2002). Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi. Sari Pediatri, 4(2), 2–5.
Agrawal S, Misra R, Aggarwal A. Anemia in rheumatoid arthritis: high prevalence of iron-deficiency anemia in Indian patients. Rheumatol Int (2006) 26: 1091– 1095. DOI 10.1007/s00296-006- 0133-4.
Alyumnah, P., Ghozali, M., & Dalimoenthe, N. Z. (2015). Skrining Astarani, K., & Siburian, G. G. (2016). Gambaran Kecemasan Orang Tua pada
Anak dengan Thalasemia
Balarajan Y, Ramakrishnan U, Özaltin E, Shankar AH, Subramanian SV. Anaemia in low-income and middle-income countries. Lancet. 2011: 1-13. DOI:10.1016/S0140736(10)62304-5.
Darllison M. Global Epidemiology of Haemoglobin Disorders and Derived Service Indicators. Buletin World Health Organization; 2013.
Departemen Kesehatan. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta: 2009.
Diri, P., (2013). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Penerimaan Diri Pasien Thalasemia di POPTI (Perhimpunan Orang tua Penderita Thalasemia Indonesia) Kota Bandung. Universitas Pasundan Bandung.
Ehsani MA, Shahgholi E, Rahiminejad MS, Seighali F, ashidi A. “A new index for discrimination between iron deficiency anemia and β- thalassemia minor: results in 284 patients,†Pakistan Journal of Biological Sciences. 2009;12(5):473–5.
Endang, W. (2013). IDAI - ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA BAYI DAN
ANAK. Retrieved February 28, 2016, from http://idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan- anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak Jurnal Averrous Vol.4 No.2 2018
Ezzati M, Lopez AD, Rodgers AA, Murray CJL. Comparative quantifi cation of health risks: global and regional burden of disease attributable to selected major risk factors. Geneva, Switzerland: World Health Organization, 2004.
Fitri, T. (2015). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Koping Orngtua Dalam Merawat Anak Dengan Thalasemia Mayor Di RSU Sari Mutiara Medan. Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Galanello - 2010 Individuals with thalassemia major usually present within the first two years of life with severe anemia, requiring https://www. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2893117/diakses tgl 20 Maret 2019
Horton S, Ross J. The economics of iron deficiency. Food Policy 2003; 28: 51–
Kaur K. Anaemia ‘a silent killer’ among women in India: Present scenario. Euro
J Zool Res, 2014, 3 (1):32-36.
Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2015.
Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jakarta: 2013.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta :
Penulis yang mempublikasikan naskahnya pada Jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa KMJ (Kieraha Medical Journal) berhak sebagai yang mempublikasikan pertama kali dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
- Menyetujui untuk menerbitkan artikel yang telah dikirimkan ke KMJ (Kieraha Medical Journal).
- Menyetujui untuk mengalihkan hak cipta (transfer of copryright) artikel ini kepada KMJ (Kieraha Medical Journal).
- Menyetujui untuk mengganti kerugian dan membebaskan KMJ (Kieraha Medical Journal) dari biaya yang mungkin timbul disebabkan oleh pelanggaran pada artikel tersebut.
- Menjamin bahwa Artikel yang dikirimkan adalah asli. Jika Artikel mengandung bagian teks, gambar, atau data yang merupakan karya orang lain, pastikan sudah mendapatkan hak atau ijin dari pemegang hak cipta (pengarang, penerbit, atau organisasi) atau didalam artikel sudah disebutkan referensinya sesuai format pengutipan data.
Lisensi :
KMJ (Kieraha Medical Journal) diterbitkan berdasarkan ketentuan Creative Commons Attribution 4.0 International License. Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun, menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Penulis atas ciptaan asli.
