PENGELOLAAN TINGGALAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI MALUKU UTARA: STUDI KASUS BANGKAI PESAWAT BRISTOL BEAUFORT
Management of Underwater Archaeological Remains in North Maluku: A Case Study of the Bristol Beaufort Aircraft Wreck
DOI:
https://doi.org/10.33387/tekstual.v24i1.10372Abstract
Underwater archaeological remains in North Moluccas constitute an important part of Indonesia’s maritime cultural resources. However, their management still faces various challenges, including limited inventory and documentation, weak monitoring systems, and inadequate legal protection. This study aims to analyze the potential and management issues of underwater archaeological through a case study of the Bristol Beaufort aircraft wreck in Morotai Island. The research employs a qualitative descriptive method using a literature review approach based on scientific publications, policy documents, and relevant regulations. The findings indicate that the management of underwater archaeological remains requires an integrated model based on Culture Resource Management (CRM), encompassing inventory and documentation, legal protection, community involvement, educational utilization, and sustainable monitoring. The novelty of this study lies in the integration of CRM principles with the characteristics of underwater archaeological remains in North Maluku as a foundation for a more systematic and sustainable management framework.
References
Adhityatama, S. (2015). Model jalur penyelaman situs USAT Liberty: Studi pengelolaan sumber daya arkeologi bawah air. Forum Arkeologi, 28(3), 165–176.
Amal, M. A., & Djafaar, I. A. (2003). Maluku Utara perjalanan sejarah 1800–1950 (Jilid 2). Universitas Khairun;
Pemerintah Provinsi Maluku Utara; Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah; Pemerintah Kabupaten Maluku Utara; Pemerintah Kota Ternate.
Ardiwidjaja, R., & Basuki, A. (2022). Pengelolaan tinggalan arkeologi: Kegiatan pelestarian sebagai daya tarik wisata. Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 11(2), 153–164. https://doi.org/10.55981/purbawidya.2022.75
Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara. (2024). Data Inventarisasi Tinggalan Arkeologi Maritim Di Maluku Utara. Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara.
Batubara, A. M. (2014). Pelindungan cagar budaya bawah air dalam kajian analisis hukum. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 8(1), 48–57.
Bowens, A. (2009). The NAS guide to principles and practice: Underwater archaeology. Nautical Archaeology Society.
Carman, J. (2015). Archaeological resource management: An international perspective. Cambridge University Press.
Cleere, H. (1990). Archaeological heritage management in the modern world. Routledge.
Direktorat Peninggalan Bawah Air. (2006). Pedoman pengelolaan peninggalan bawah air. Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Flatman, J. (2009). Maritime archaeology: A very short introduction. Oxford University Press.
Flecker, M. (2017). Maritime archaeology and shipwreck heritage: History, methods, and practice. Oxbow Books.
King, T. F. (2020). Cultural resource management: A collaborative primer for archaeologists. Berghahn Books.
Lukman, M., Wibowo, A. S., & Satria, A. (2021). Alternatif model pemanfaatan berkelanjutan tinggalan budaya bawah air di Indonesia. Jurnal Kelautan Nasional, 16(3), 177–190.
Makmur, D. S. (2020). Preservation of underwater cultural heritage: Utilization of Lockheed P-38 Lightning aircraft in Lae-Lae Island waters as a diving attraction. Prosiding Seminar Nasional Arkeologi Maritim.
Manders, M. R., & Underwood, C. (2021). Public Access and Sustainable Management of Underwater Cultural Heritage. Conservation and Management of Archaeological Sites, 23(2–3), 150–167.
Mansyur, S. (2016). Tinggalan Perang Dunia II dan konseptualisasi museum di Morotai. Kapata Arkeologi, 12(2), 115–128.DOI:10.24832/kapata.v9i1.195
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Muckelroy, K. (1978). Maritime archaeology. Cambridge University Press.
Pacheco-Ruiz, R., & Richards, V. (2022). Sustainable Approaches to Underwater Cultural Heritage Management: Challenges and Opportunities. Journal of Maritime Archaeology, 17(3), 345–362.
Puluhulawa, J., Towadi, M., & Swarianata, V. (2020). Perlindungan hukum situs bawah air Leato/Japanese Cargo Wreck. Jurnal Reformasi Hukum, 24(2), 189–208. DOI: https://doi.org/10.46257/jrh.v24i2.137
Republik Indonesia. (2010). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Ridlo, M. M. H., & Alfian, M. F. (2021). Posisi Indonesia dalam rezim UNESCO perlindungan cagar budaya bawah air: Pencurian bangkai kapal milik asing di laut Indonesia. Journal of International Relations, 7(2), 66–76. DOI:https://doi.org/10.14710/jirud.v7i2.30454
Sari, A. K., Nurachmad, M., & Nursal, H. I. (2021). Model pengelolaan benda berharga muatan kapal tenggelam berdasarkan kebijakan ekonomi biru (blue economy) untuk memperkuat ekonomi berkelanjutan Indonesia. Lex Jurnalica, 18(1), 38–47.
Sofwan, A. (2007). Kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya budaya maritim di Bali. Jurnal Humaniora, 19(2), 115–124.
Suantika, I. W. (2012). Pengelolaan sumber daya arkeologi. Forum Arkeologi, 25(3), 185–205.
Suwindiatrini, K. A. (2025). Japan archaeological remains utilization plan: Little Tokyo in Halmahera during World War II. Kalyanamitra: Journal of Archaeological Resource Management, 1(1), 1–12.
UNESCO. (2001). Convention on the protection of the underwater cultural heritage. UNESCO.
Additional Files
Published
Issue
Section
License
- Penulis memegang hak cipta dan memberikan hak jurnal untuk publikasi pertama dengan karya yang dilisensikan secara bersamaan di bawah a yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan dari penulis dan publikasi awal dalam jurnal ini.
- Penulis dapat membuat pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi jurnal yang diterbitkan dari karya tersebut (misalnya, mempostingnya ke penyimpanan institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan awal. publikasi di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting karya mereka secara online (misalnya, di repositori institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses pengiriman, karena hal itu dapat mengarah pada pertukaran yang produktif, serta kutipan yang lebih awal dan lebih besar dari karya yang diterbitkan.








